Siapa yang Mempunyai Rating Televisi Indonesia Terbaik?

rating-televisi-indonesia
facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rating televisi mempunyai sejarah sangat panjang. Salah satu pelopor pembuat rating televisi adalah Nielsen. Perusahaan yang didirikan oleh Arthur C. Nielsen pada tahun 1920an di Amerika Serikat, ketika itu dirinya fokus menjadi brand analis sampai tahun 1930. Kemudian di tahun 1940an, radio booming di Amerika Serikat, Nielsen pun langsung menjadi analis rating untuk program radio. Nielsen bersama temannya di MIT membuat Audimeter, untuk mengetahui jumlah pendengar, rata-rata pendengar, sampai berapa uang yang dihabiskan oleh orang untuk mendengarkan radio.

Sukses dengan rating radio, Nielsen langsung bergerak ke televisi. Tepatnya di tahun 1950, cara yang sama digunakan oleh Nielsen untuk mengetahui seberapa besarkah penonton suatu acara di televisi. Audimeter yang dulu dibuat untuk radio, kemudian dikembangkan di televisi. Untuk menarik data, Audimeter ini akan mengirimkan sinyal lewat telepon. Sejarah baru dunia rating televisi bermula di tahun 1987 ketika Nielsen meluncurkan people meter yang dipasang di televisi sample. Cara ini sangat sukses untuk menentukan apa saja program televisi yang sedang naik daun.

Dari data Nielsen Sekarang, di Amerika Serikat sudah ada 119 juta televisi yang terpasang dengan jumlah penonton televisi mencapai 304 juta. Nielsen tentu tidak bisa memonitoring seluruh televisi, mereka cukup mengambil sample 1% dari jumlah televisi di Amerika Serikat. Dari situ, Nielsen sudah menjadi salah satu perusahaan tv rating terbaik di dunia. Tim Penulis.ID akan membahas lebih dalam mengenai hal ini.

 

Lalu bagaimana di Indonesia?

Menurut research dari remotivi.or.id, Indonesia sudah mempunyai sejarah panjang sistem rating sejak tahun 1971. Ketika itu ada lembaga bernama Search Data yang fokus kepada riset pemasaran dan sosial. kemudian di tahun 1973, Search Data bergabung dengan Survey Research Group (SRG) dan di tahun 1983 SRG membentuk Survey Research Indonesia (SRI), sebelum akhirnya Nielsen masuk ke Indonesia di tahun 2001.

Pada tahun 90an, TVRI yang menjadi stasiun televisi pemerintah setuju untuk membayar 75% untuk mendapatkan rating televisi, kemudian 25% sisanya dibayar oleh Perusahaan Periklanan Indonesia. Tetapi tahun 1993, TVRI menolak untuk melanjutkan kerja sama karena menilai bahwa rating ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Jadi sejak tahun 2000an, Nielsen hanya menyuplai data dari televisi swasta.

Lalu bagaimana para lembaga survei tersebut mengambil sample? Mungkin Anda dulu pernah mengalami mengisi buku harian televisi, yup dari situ para perusahaan survei mendapatkan data berapa orang yang suka menonton acara televisi A atau B. Baru ketika Nielsen masuk dengan People Meter-nya, semua sistem rating berubah.

 

Bagaimana Nielsen menghitung sebuah rating televisi?

Sebelum mengetahui apa saja program rating televisi terbaik di Indonesia, Anda harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara Nielsen menghitung rating. Tetapi sebelum itu, rating ini bukan sekadar mengetahui program apa yang bagus, jauh daripada itu rating dari Nielsen ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana performa televisi di Indonesia. Apakah program ini disukai oleh masyarkat atau tidak, apakah program ini cocok untuk orang dewasa atau tidak. Selain itu untuk pengiklan, rating televisi bakal jadi ukuran utama apakah mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk iklan.

Rating adalah jumlah orang yang menonton televisi per menit dan dibagi dengan populasi televisi. Selain rating, biasanya ada lagi indikator yang tidak kalah pentingnya yaitu share. Share adalah jumlah penonton suatu program dan dibagi dengan jumlah orang yang pada saat bersamaan sedang menonton televisi. Jadi bisa dikatakan rating ini dibuat untuk membandingkan untuk program yang tayang di jam yang berbeda, lalu share digunakan untuk membandingkan program televisi kompetitor di jam yang sama.

Nah cara Nielsen mendapatkan data adalah dengan memasang people meter yang ada televisi rumah tangga. Di Indonesia sekarang setidaknya ada 2,273 panel people meter yang terpasang di 11 kota besar di seluruh Indonesia. Jumlah ini sempat diprotes oleh beberapa perusahaan karena jumlahnya terlalu sedikit. Sebagai perbandingan, Australia yang jumlah penduduknya hanya sebesar DKI Jakarta memiliki 5000 panel.

Untuk memasang panel, Nielsen bekerja sama dengan pemilik televisi rumah tangga. Mereka diminta kerja sama untuk televisinya dipasang people meter. Nielsen tidak sembarangan dalam menentukan panel, setidaknya rumah tangga ini minimal mempunyai televisi setidaknya 5 tahun. Kemudian Nielsen juga melihat karakter demografis, area, ukuran rumah tangga, kelas sosial ekonomi, dan gender. Seperti dilansir dari cnnindonesia.com, Nielsen akan mengirimkan data setiap hari pada pukul 10 pagi untuk data hari sebelumnya.

rating-televisi-indonesia

Siapa yang punya rating televisi tertinggi? Photo Credit: Pexels

 

Bagaimana cara menaikkan rating televisi?

Apakah data dari sebuah rating televisi ini dapat dibagikan secara komersial? Jawabannya ternyata tidak, data rating televisi ini hanya digunakan untuk keperluan internal. Walaupun begitu, ada beberapa data yang bocor. Misalnya melalui Instagram @rating_tv, muncul data rating televisi di hari-hari tertentu. Pada hari Jumat 17 Agustus 2018 kemarin misalnya, rating tertinggi adalah Siaran Langsung Sepak Bola Asian Games Laos vs Indonesia dari SCTV, kemudian nomor dua ada Cinta yang Hilang dari RCTI, dan nomor tiga ada Orang Ketiga dari SCTV.

Secara sekilas memang sinetron memiliki dominasi yang tinggi untuk ukuran rating, memang wajar karena sinetron memiliki jam tayang yang konsisten dengan cerita yang terikat. Dibandingkan dengan acara lain, sinetron lebih mempunyai efek memiliki yang lebih tinggi. Apalagi di Indonesia terkenal orang –orang yang sangat maniak acara sinetron.

Selain membuat skenario dan bintang yang bagus, di sini kami akan sedikit menjelaskan bagaimana caranya menaikkan rating televisi. Simak ya.

  • Gunakan media sosial untuk promosi

Data dari Nielsen menujukkan bahwa program yang memiliki akun di media memiliki jumlah penonton 36% lebih banyak daripada program televisi yang tidak memiliki media sosial. Jadi mulai sekarang, Anda bisa membuat akun media sosial ketika televisi sudah muncul.

Masih data dari Nielson, di Amerika Serikat ternyata 80% orang Amerika Serikat yang menonton acara televisi akan melakukan membicarakannya di media sosial. Jadi selain mempunyai akun media sosial, Anda wajib bisa me-maintenance media sosial dengan cara berinteraksi. Dengan begini Anda juga akan mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan dari program acara televisi Anda.

  • Buat acara yang bersambung

Entah Anda membuat program televisi ataupun iklan televisi, Anda harus membuatnya secara bersambung. Mengapa demikian? Karena tipikal dari penonton Indonesia yang menyukai sinetron, yang mengikat penonton dengan cerita, Anda bisa melakukan hal yang sama. Gunakan acara atau cerita yang bersambung, buat bagaimana penonton merasa memiliki dan menunggu apa yang terjadi setelahnya.

  • Buat acara televisi atau iklan yang serius atau bercanda sekalian

Jika Anda melihat acara televisi atau iklan di Thailand ataupun Jepang, Anda akan merasa ada kesamaan. Pertama mereka akan sangat serius dalam membuat program televisi dan iklan, mulai dari sinematografi, ide cerita, sampai pemeran dibuat sangat total. Tetapi ketika mereka membuat program televisi atau iklan yang lucu, mereka bakal membuat dengan cara yang sangat konyol.

Mengapa demikian? Karena untuk mendapatkan rating yang bagus, Anda harus mempunyai ide cerita yang mudah diingat. Entah karena cerita yang bagus, pemeran yang bagus, atau hal lain seperti editing. Dengan begini tujuan Anda mendapatkan rating atau sekadar brand awareness akan tercapai.

Itulah bagaimana sejarah, bagaimana Nielsen mengambil rating sebuah program televisi, lalu bagaimana cara sederhana meningkatkan rating televisi yang bagus. Walaupun Indonesia didominasi acara sinetron sebagai pemilik rating paling tinggi, Anda masih bisa mengambil beberapa pola dari sinetron tersebut. Semoga pembahasan dari Penulis.ID ini bisa membantu Anda.

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
The following two tabs change content below.

Dior Asning Kosyu

Wordsmith. Head editor at Penulis.ID