Path, Bisakah Digunakan Oleh Brand?

path untuk branding
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Menengok sepuluh tahun lalu, keberadaan media sosial tidak se-booming sekarang. Dulu sebelum ada Facebook, Twitter, Instagram dan kawan-kawan, penggunaan media sosial hanya terbatas pada Friendster. Selain itu dibanding sekarang, penggunaan internet beberapa tahun lalu juga masih sedikit.

Perkembangan Media Sosial Dilatarbelakangi oleh Mudahnya Akses Internet

Photo credit: rawpixel (pixabay)

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, internet pun semakin mudah. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya provider yang menyediakan layanan internet dengan pilihan yang bervariasi. Kemudahan akses internet ini juga berdampak pada peningkatan wawasan masyarakat terhadap dunia digital. Internet tidak hanya digunakan sebagai ajang mencari informasi terkini, namun juga berinteraksi dengan orang lain.

Meskipun interaksi di dunia maya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, perkembangan teknologi dan mudahnya akses internet membuat hal tersebut semakin meningkat. Tak hanya Friendster, banyak media sosial lain bermunculan  seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Youtube, Google+ dan masih banyak lagi. Masing-masing menawarkan fitur yang berbeda untuk para penggunanya. Lambat laun, semakin banyak orang yang berpindah dari Friendster ke media-media sosial yang baru tersebut. Akibatnya, eksistensi Friendster pun tergeser dan tenggelam.

Media Sosial untuk Branding

media sosial untuk branding

Photo credit: LoboStudioHamburg (pixabay)

Penggunaan internet khususnya di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Menurut data statistik yang dilansir dari situs We Are Social, pengguna internet di Indonesia meningkat setiap sebanyak lima belas persen, terhitung sejak tahun 2015 hingga 2016. Dari 260 juta penduduk, sebanyak 88 juta orang merupakan pengguna internet aktif. Dari angka tersebut, sebanyak 78 juta orang aktif di media sosial. Hal ini juga mengalami peningkatan sebanyak sepuluh persen.

Sedangkan untuk media sosial yang paling banyak diakses di Indonesia adalah Facebook, yakni sebanyak lima belas persen. Hampir setiap orang yang aktif di media sosial memiliki akun Facebook, entah ia menggunakannya setiap hari atau hanya membukanya beberapa hari sekali saja. Melalui Facebook, pengguna bisa berbagi momen mereka dengan orang lain berupa unggahan status, foto, dan video. Pengguna Facebook tak hanya terbatas pada perseorangan, tapi juga perusahaan. Banyaknya pengguna Facebook membuat media sosial ini menjadi tempat yang pas untuk branding. Batas jumlah pertemanan yang cukup banyak memungkinkan suatu perusahaan untuk mengenalkan brand-nya secara lebih luas pada masyarakat. Semakin banyak orang yang terhubung dengannya, maka akan semakin dikenal brand tersebut.

Tak hanya Facebook, media sosial lain yang saat ini juga mulai dilirik untuk branding adalah Instagram. Berbeda dengan Facebook, Instagram lebih berfokus pada unggahan gambar dan video. Ini merupakan cara menarik lain untuk branding. Branding yang dilakukan dengan menitikberatkan pada audio visual dianggap lebih berkesan dibanding berupa teks review biasa. Oleh sebab itu, tak heran jika pengguna media sosial yang satu ini semakin bertambah setiap harinya. Selain Facebook dan Instagram, Twiter juga menjadi alternatif media sosial lainnya untuk melakukan branding.

Path sebagai Media Sosial Eksklusif

Menurut tim social media Penulis.ID, media sosial lain yang juga tak boleh dipandang sebelah mata adalah Path. Boleh dibilang, Path ini adalah pendatang baru. Didirikan pada tahun 2015 oleh mantan Eksekutif Facebook, Dave Morin, Path ingin memberikan layanan yang berbeda dari media-media sosial yang sudah ada. Di Path, Anda hanya bisa mengoleksi teman dalam jumlah yang sangat terbatas, yakni hanya 500. Jumlah ini jauh lebih banyak dari sebelumnya yang hanya 150. Dengan jumlah yang sedikit ini, diharapkan pengguna bisa lebih mendapatkan privasi dalam berselancar di dunia maya.

Meskipun masih muda, tapi pengguna Path kini telah memiliki sekitar seratus juta pengguna aktif setiap bulannya. Tentu saja angka ini masih kalah dibandingkan Facebook yang memiliki 1,5 miliar pengguna aktif setiap bulannya. Pada pertengahan 2016 lalu, Path melakukan pembaharuan dengan meluncurkan empat fitur baru seperti Visual Thought, Edit Moment, Location Photo, dan Profil URL. Kehadiran fitur-fitur baru tersebut diharapkan dapat menggaet lebih banyak pengguna.

Path tidak seperti Facebook, Twitter, maupun Instagram yang memungkinkan para penggunanya dengan bebas mem-folllow, melihat, memberi komentar, dan membagikan posting-an orang lain walau tanpa harus menjadi teman. Di Path, Anda harus terhubung terlebih dahulu dengan teman Anda untuk bisa melihat update-an teman Anda tersebut. Hal ini memungkinkan Anda untuk berbagi hanya dengan orang-orang terdekat. Jadi Anda tidak bisa dengan bebas melihat dengan bebas apa yang di-post orang lain yang bukan teman Anda dan juga sebaliknya. Oleh sebab itu, Path cocok untuk Anda yang menginginkan media sosial dengan privasi tinggi.

Selain itu, Anda tidak perlu merasa terganggu dengan adanya kolom iklan yang muncul seperti di media-media sosial lainnya. Path dikhususkan untuk memberikan layanan yang fokus untuk penggunaan secara personal. Jadi, untuk Anda yang ingin beriklan atau promosi, sepertinya Path bukan pilihan terbaik dibanding media sosial lain yang lebih ramai pengguna.

Path untuk Branding

branding

Photo credit: 3dman_eu (pixabay)

Tujuan dari branding adalah memperkenalkan perusahaan kepada khalayak umum sebanyak-banyaknya. Media sosial adalah tempat yang pas untuk melakukannya. Tapi sayangnya tidak semua media sosial bisa. Seperti telah disebutkan si atas, Path sebagai media sosial eksklusif yang hanya memungkinkan penggunanya memiliki 500 teman kemungkinan akan menyusahkan Anda dalam proses branding. Bagaimana mungkin brand Anda bisa dikenal jika orang yang bisa melihat aktivitas Anda di path hanya terbatas? Mungkin untuk personal branding, Path bisa dimanfaatkan.

Seperti halnya Linkedin, Path bisa Anda gunakan untuk mempromosikan diri dan karir Anda. dengan kata lain, “memasarkan” diri sendiri. Tentu hal ini berbeda dengan branding untuk suatu produk, bukan? Untuk produk, Anda pasti menginginkan agar ia dikenal seluas-luasnya. Sedangkan untuk personal branding yang lebih fokus ke diri sendiri, sebaiknya hanya ke lingkup orang-orang tertentu.

Jadi dari sini, dapat kita lihat bahwa Path bisa Anda gunakan sebagai cara memperluas jaringan secara terbatas. Untuk hal tersebut Anda bisa melakukannya dengan membuat konten yang orisinal dan menarik. Anda tidak perlu menge-tag atau memberi tagar agar posting-an Anda dilihat karena tanpa itu semua pun apa yang And aposting juga akan mendapat perhatian dari yang lain. Ingat, Path adalah media sosial yang lebih ke “close relationship” dna setiap orang memiliki teman yang terbatas.

Bandingkan dengan Facebook atau Instagram yang memungkinkan Anda terhubung dengan banyak orang bahkan yang tidak dikenal. Pasti Anda pernah mengalaminya ketika beranda dipenuhi oleh posting-an tidak jelas yang sama sekali tidak menarik bahkan mengganggu. Jujur saja, pastinya hal ini akan membuat Anda muak, bukan? Di Path, Anda tidak akan menemukan hal semacam ini. Itulah kenapa menurut tim Penulis.ID, proses personal branding Anda akan lebih efektif dan mengena sasaran.

 

Featured image photo credit: rawpixel (pixabay)

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail
The following two tabs change content below.